elfaakir_23

coretan sang fajar

Solidaritas dan Konspirasi UN Kelas Kami

 

Kisah ini hanya bertujuan untuk mengenang masa lalu dan.

Yah…

Inilah realita yang sebenarnya terjadi di sekolah kita…

 

So dimanakah idealisme yang selama ini kita pegang bersama?

Idealisme aku, kamu, dan kita semua….

 


 

 

So sibuk. Itulah kesan pertama yang kami rasakan di awal semester dua kelas tiga aliyyah ini. Bagaimana tidak, di pernghujung aliyyah ini kami dihadapkan dengan serangkaian ujian yang saling berkaitan antara ujian yang satu dengan ujian yang lainnya. Diantaranya adalah ujian akhir madrasah, ujian akhir sekolah, ujian nasional, ujian saringan masuk mandiri ke PTN, dan serangkaian ujian lainnya yang tentu menguras otak kami. Sehingga ada fenomena umum yang dirasa cukup ganjil di kelas kami: solidarisme tingkat tinggi.

Kelas IPA putra, kelas dengan tingkat individualisme yang cukup tinggi jika dibandingkan denga kelas yang lainnya, mendesak mamapu untuk menjadi kelas yang solid di tiga bulan terakhir kelas 3 aliyyah ini. Pulang sekolah yang asalnya berpencar ke warnet, perpustakaan, lembaga bimbingan belajar, ataupun tempat yang lainnya, kini semua serempak untuk selalu mengikuti jam pelajaran tambahan yang diadakan oleh pihak sekolah, karena memang di sekolah kami jumlah jam pelajaran mata pelajaran DIKNAS tidak sebanyak jumlah jam pelajaran DIKNAS di sekolah umum lainnya. Hal tersebut dikarenakan sekolah kami menganut tiga kurikulum sekaligus, yaitu kurikulum DIKNAS, DEPAG, dan juga kurikulum muatan lokal lainnya, sehingga terkadang siswa pun merasa keteteran untuk menyeimbangkan  waktu berlajar dengan tiga kurikulum sekaligus. Meskipun jam tambahan itu pun lebih terkesan pada pemerataan penguasaan materi pelajaran antara the big five, anak olimpiade, dan juga siswa yang biasa-biasa saja, kami selalu senang melewati hari-hari penuh ketegangan ini. Semua hal itu didasarkan pada perjanjian kelas yang telah disetujui secara mutlak oleh kami di awal semester dua ini, yang berbunyi: “kita masuk bersama, lulus pun bersama-sama”.

Hari demi hari kami lewati bersama, walau terkadang kami harus pulang 2-3 jam lebih sore dari pada kelas lain. Semua hal itu kami lakukan untuk mengejar ketertinggalan materi pelajaran yang akan di-UN-kan ataupun sekedar membahas soal sebagai upaya perbaikan mental menghadapi UN dan mengenali karakteristik soal yang biasanya disajikan pada UN. Terkadang kami pun melakukan belajar kelompok secara mandiri dengan teman-teman sekitar rumah kami untuk lebih memantapkan materi  pelajaran, berbagi tips dan tricks menghadapi UN dan SNMPTN, ataupun hanya sekedar untuk mengerjakan tugas sekolah secara bersama-sama.

Melalui belajar kelompok inilah kami saling berbagi dan saling mengisi ketertinggalan kami, karena tidak setiap orang menguasai semua pelajaran sekaligus. Arifin, sahabat karibku yang lebih jago di pelajaran fisika kadang mengajari teman-teman yang lain untuk memahami rumus dan mengaplikasikannya pada bentuk soal yang disajikan, Adit yang juga jago di matematika, ataupun teman kami yang lain yang menguasai beberapa pelajaran yang akan di-UN-kan selalu berbagi ilmunya kepada teman-teman yang lain untuk dapat mewujudkan mimpi bersama kami: lulus secara bersama-sama, 100%. Terkadang, kami juga mengembangkan beberapa rumus supaya dapat dengan mudah difahami ataupun mengotak-atik rumus cepat yang diberikan oleh lembaga bimbingan belajar agar dapat mengerjakan soal dengan cepat dan tepat, dan rahasia-rahasia belajar lainnya yang selama dua tahun sebelumnya hanya menjadi rahasia bagi masing-masing individu saja.

Selain melalui belajar kelompok itu, kami juga gencar memodifikasi sistem belajar kami dengan tujuan menghasilkan sistem belajar yang jauh lebih efektif bagi masing-masing individu. Beberapa tips baru langsung kami berlakukan pada saat itu juga, seperti kuadran waktu yang mampu membagi aktivitas kami antara mana yang penting dan mendesak, penting tidak mendesak, tidak penting mendesak, ataupun yang sama sekali tidak penting dan tidak mendesak, metode titian ingatan, metode mapping, ataupun metode belajar lainnya yang telah kami modifikasi secara mandiri.

Ujian demi ujian tak terasa sudah mulai menghampiri satu per satu, dimulai dengan ujian hafapal Al-Quran, deadline dan sidang penyusunan karya tulis ilmiah, ataupun ujian mandiri seleksi perguruan tinggi. Kesemua hal tersebut tentulah sangat mengganggu proses ‘pertapaan’ kami dalam pengejaran ketertinggalan materi. Beruntung sekali bagi Arifin yang rajin yang cenderung santai saja di tengah gempuran beragam ujian. Karena dia telah mempersiapkan jauh-jauh hari untuk dapat melalui serangkaian ujian ini secara maksimal dan terncana. Dimulai dari ujian hafalan Al-Quran yang lulus tepat waktu dengan nilai yang maksimal, penyusunan karya tulis ilmiah yang juga tepat waktu, sehingga mempunyai kesiapan yang lebih untuk menghadapi sidang, dan beragam ujian lainnya yang dia telah persiapkan secara matang jauh-jauh hari sebelumnya.

Meskipun demikian, kami pun masih sempat mengerjakan hal-hal yang ‘tidak penting-tidak mendesak’ seperti bermain game dotA bareng ataupun sekedar makan-makan bareng, meskipun semua hal tak berguna itu kami lakukan hanya pada waktu yang benar-benar kosong saja dengan interval waktu yang terbilang sangat-sangat jarang, karena tetap saja paranoid akan UN itu harus tetap kami hadapi juga. Semua hal itu sengaja kami lakukan untuk menyegarkan pikiran kami yang telah terhipnotis oleh kesakralan UN yang menentukan kelulusan hanya dengan 6 mata pelajaran saja, karena kami tidak mau ikut-ikutan tersiksa mental dan batin gara-gara enam pelajaran suci tersebut, terlebih lagi dengan mulai maraknya pemberitaan tentang anak-anak yang stress akan UN di minggu-minggu terakhir menjelang UN. Terlebih lagi karena pidato kepala sekolah yang menuai pro dan kontra di kalangan siswa dan tenaga pendidik sendiri, yang mengamanatkan tidak akan pernah memfasilitasi para siswa dengan cara kotor seperti sekolah lainnya, dan beliau juga mengatakan tidak akan pernah menghargai siswa yang hanya mengejar kelulusan saja sehingga menghalalkan segala cara. Sebuah pidato yang kami nilai mampu menguji kekuatan mental kami, meskipun sebenarnya kami juga takut untuk tidak lulus sekolah.

Memasuki hari-hari terakhir menjelang UN, formasi belajar pun mulai berubah menjadi lebih canggih. Kami mulai menerapkan sistem belajar masjid. Hal ini ditandai dengan seringnya kami belajar di masjid, bahkan tidur di masjid dengan tujuan supaya bisa melaksanakan shalat tahajud dan belajar di waktu dini hari setelah tahajud. Sistem belajar ini merupakan ide gila para pendahulu kami yang selalu melakukan rutinitas ini menjelang pelaksanaan UN.

Terkadang kami pun saling membangunkan untuk dapat melaksanakan tahajud dan mendo’akan kelulusan bersama 100%. Hal ini terus berlangsung sampai pada akhirnya beredar sms-sms tentang kunci jawaban UN di tengah malam yang memancing kepenasaran kami. Bagaimana mungkin kami tidak penasaran untuk menguji validitas kuncinya, karena Menteri Pendidikan telah menjamin kemustahilan kebocoran soal UN, pengawasan yang ketat, dan yang lebih aneh lagi justru dari kunci jawaban itu sendiri yang satu mata pelajaran saja mempunyai beberapa versi jawaban. Beredarnya kunci jawaban tersebut juga terlepas dari tanggung jawab pihak sekolah yang telah menjamin kemurnian pelaksanaan UN, tidak ada yang tahu–menahu tentang asal mula kunci jawaban beragam versi tersebut bermula. Ada yang berkata dari joki-lah, lembaga bimbingan belajar-lah, ataupun guru yang nyeleneh-lah, yang pasti tidak pernah ada seorang pun yang berani menjamin keabsahan kunci jawaban tersebut.

Suasana hari pertama ujian pun menjadi sangat menegangkan dan heboh dengan kasus yang terjadi di malam Senin itu. Rapat darurat pun kami lakukan untuk menentukan langkah persatuan kelas kami, hingga akhirnya kami sepakat untuk menguji terlebih dahulu kebenaran kunci jawaban tersebut, mengusahakan untuk tetap mengerjakan soal UN secara mandiri jangan terpaku pada kunci jawaban. Kami pun sepakat dan masuk ruang ujian dengan perasaan tegang, tertantang untuk membuka ‘wangsit’ tadi malam, dan juga perasaan takut tidak lulus ujian. Berbekal do’a dari orang tua, persiapan belajar yang cukup matang, dan keputusan rapat, kami pun melangkahkan kaki ke dalam ruang kelas tempat ujian berlangsung dengan bermacam perasaan.

30 menit pertama ujian berlangsung hening sampai pada akhirnya kami merasa aneh dengan pengawas ujian yang cenderung acuh terhadap peserta ujian, hal itu ditandai dengan seringnya mereka keluar ruang ujian hanya untuk mengobrol dengan pengawas lain ataupun polisi sebagai pengawas tambahan. Hal tersebut justru memancing kami untuk membuka ‘wangsit’ dan menguji keabsahan ‘wangsit’ itu secara mandiri. Ketika kami memeriksa keabsahan ‘wangsit’ tersebut, kami pun menemukan hal yang sangat mencengangkan, karena ternyata tidak semua jawaban yang tertera pada ‘wangsit’ sama dengan jawaban yang telah kami yakini. Hal tersebut memacu reaksi tiap-tiap peserta untuk berbisik-bisik tentang kejadian tersebut. Melalui sandi-sandi tertentu, kami sepakat untuk tidak terpaku pada ‘wangsit’, tapi tetap menyamakan jawaban antara satu peserta dengan peserta lainnya, karena kelonggaran pengawasan seolah memberikan kesempatan kepada kami untuk melakukan kegiatan tersebut. Hal tersebut sangatlah lucu, menantang, dan yang pasti sangatlah berkesan, karena kesakralan UN dapat dengan mudahnya ditembus, apalagi dengan keberadaan pengawas yang acuh terhadap kegiatan terselubung kami, seolah memberikan kesempatan kepada peserta untuk melakukan kerja sama terselubung itu. Dan peraturan ujian pun menjadi hilang esensinya, hanya teronggok di pintu masuk, papan tulis, dan berita acara ujian sebagai formalitas belaka.

Sebenarnya tipe soal yang di-UN-kan tidaklah sesulit soal SPMB yang sering kami gunakan untuk latihan, tapi ketegangan dan solidaritaslah yang menjadikan kami berani untuk melakukan tindakkan tersebut, karena kami yakin tidak semua siswa angkatan kami dapat mengerjakan soal-soal UN dengan lancar, setidaknya hanya untuk sampai pada batas minimal saja, karena di waktu jam pelajaran tambahan mereka sering tertidur ataupun tidak fokus dan tidak ditunjang dengan belajar secara mandiri di luar jam pelajar formal, sehingga mereka cukup kesulitan sehingga perlu untuk dibantu oleh teman-teman yang lainnya. Kadang para big five dan anak olimpiade merasa miris dengan sistem UN ini, karena hanya untuk dapat predikat lulus 100% saja, harus ada kegiatan terselubung yang mampu menodai kesakralan UN dan amanat dari Kepala Sekolah kami.

Konflik batin ini dengan cepat meruncing karena secara tidak langsung mereka telah membohongi idealisme kami sendiri demi membantu kawan-kawannya yang masih kurang siap dalam pelajaran yang di-UN-kan, meskipun mereka punya kelebihan yang lain tersendiri di bidang akademik non-UN seperti di bidang pelajaran kesenian ataupun bidang non-akademik seperti kemampuan berbicara di depan umum dan bernegosiasi. Di satu pihak, kami harus memegang teguh idealisme untuk mengahadapi ujian dengan jujur.Tapi di sisi lain, kami juga harus mengorbankan idealisme kami demi sebuah solidaritas.

Solidarisme memanglah penting, tapi kejujuran pun tak kalah pentingnya jika dibandingkan dengan solidarisme. Sehingga keduanya harus dicapai secara bersamaan. Hal ini akan sulit terwujud jika tidak adanya kerja sama antara, kita, teman kita, dan pengawas ujian. Karena ujian nasional hanyalah sepenggal tantangan hidup yang harus dihadapi oleh setiap pelajar. Untuk dapat melewatinya, satu-satunya jalan adalah dengan menghadapi tantangan itu sendiri dengan penuh keyakinan. Dan tantangan itu haruslah dihadapi dengan penuh keayakinan akan kemampuan diri sendiri, karena tantangan yang sebenarnya adalah seberapa beranikah kita berbuat jujur di tengah kondisi yang sulit, bukan sejumlah soal yang ada di hadapan kita dan seberapa banyak pengawas yang ada mengawasi kita. Karena selain pengawas ujian, masih ada yang mengawasi kita selama ujian berlangsung: Yang Maha Mengawasi.

 

*The big five: juara kelas 1-5

 

Saat kita bersama, semua hal begitu menyenangkan.

Aku rindu anak-anak SOANG (Science of Angkatan Genep)

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 8, 2011 by in Features, Personal.
%d bloggers like this: