elfaakir_23

coretan sang fajar

Sang Pewaris

SANG PEWARIS
Suatu hari di salah satu kelas di sebuah sekolah favorit di kota Garut.
Brak…..
Gebrakan tangan Pak Agus di mejaku mengusik mimpi pagiku yang indah di dalam ruang kelasku. Tak lama kemudian Pak Agus membuka ceramah intensifnya padaku.
“Udin, rupanya kamu tidak jera juga berkali-kali bapak hukum kamu. Sudah kesekian kalinya bapak katakan padamu supaya tidak tidur di dalam kelas. Mengapa kamu selalu tidur di dalam kelas? Tidak cukupkah waktu istirahatmu di rumah?”
“Iya pak, maafkan saya, saya khilaf”, hanya kata-kata tersebut yang aku lontarkan untuk mendinginkan kembali telingaku yang terbakar oleh ceramahnya, dan kata ini pula yang berhasil menutup ceramah intensifnya.
“Berdiri di depan kelas!”, bentak Pak Agus padaku. Aku pun menurut malas melangkah ke depan kelas, meskipun hati ingin berontak untuk membela diri. Tapi aku tidak berani melawannya, karena dia adalah guru senior sekaligus kepala sekolah yang kapanpun dia mau dapat mengeluarkan murid berandal sepertiku dari sekolah favorit ini.
Di depan kelas aku berdiri sambil berfikir keras, mengapa aku harus bersekolah, padahal presiden masih ada; mengapa aku harus belajar, padahal ilmuwan masih banyak; mengapa suatu saat nanti aku harus bekerja, padahal harta kedua orang tuaku tidak akan habis tujuh turunan; mengapa semua peraturan ini harus mengatur diriku, padahal diriku ingin hidup bebas, sebagaimana orang-orang barat mengartikan makna kebebasan. Mengapa dan mengapa, hanya itu yang ada dalam pikiranku selama menjalani siksaan dari Pak Agus yang galak itu.
Satu jam aku berdiri di depan kelas ditemani sikap acuh teman-temanku, pikiranku yang sejak tadi berfikir keras tentang kehidupanku dan perutku yang semakin lama semakin keroncongan membuat diriku lemas. Hingga akhirnya kedua kakiku tak lagi mampu menopang tubuhku dan aku pun terjatuh di depan kelas ditemani sayup suara teman-temanku yang memanggil-manggil namaku sampai aku tak mendengar lagi teriakan mereka dan semuanya menjadi gelap.
Tidak lama setelah aku terjatuh, aku terbangun di tempat yang sama sekali tak pernah ku kenal dengan dikelilingi orang-orang yang tak ku kenal juga, kecuali satu orang diantara mereka yang tampak begitu marah dan sangat mirip denganku. Dan ia pun mendekatiku.
“ Tahukah kau siapakah diriku?”
“Tidak”
“aku adalah dirimu, sisi lain dari dirimu yang merana karena ulah dan sikapmu selama ini”
“Mengapa kau merana? Apa salahku selama ini?”
“Terlalu banyak kesalahan yang telah kau perbuat,yang membuat diriku selalu dimarahi orang-orang di belakangku ini”
“Siapa pula mereka itu?”
“Mereka adalah para pahlawan masa lalu yang kecewa dengan sikapmu selama ini”
“Mengapa mereka kecewa dengan diriku?, bukankah diriku ini hanyalah seorang siswa di salah satu sekolah favorit di kotaku?”
“Mereka kecewa dengan cara pandangmu menatap masa depan, terutama masa depan Islam yang telah seperti buih di lautan dan juga masa depan bangsa ini yang telah carut-marut dan melenceng jauh dari cita-cita dan harapan mereka”
“Bukankah bangsa kita telah merdeka sejak 64 tahun lalu dan telah terbebas dari penjajah?”
“Merdeka? Kita telah merdeka? Apakah maraknya korupsi, kolusi, dan nepotisme merupakan sebuah indikator dari kemerdekaan? Apakah pengekangan kebebasan berfikir, pendidikan yang mahal, kemiskinan yang tidak pernah terselesaikan, kelaparan yang meraja lela, dan hutang luar negeri yang semakin hari semakin menumpuk tidak terbayar merupakan ciri dari negeri yang telah merdeka dan terlepas dari penjajah? Justru penjajah sekarang adalah bangsa kita sendiri yang tidak bermoral”
Aku tertunduk malu mendengar pemaparannya itu. Aku tidak berani menimpali perkataannya, mungkin ada hubungannya dengan diriku yang pemalas ini. Belum sepatah kata pun aku menimpali perkataannya, dia sudah kembali menginterogasiku.
“Bukankah dirimu adalah seorang Muslim juga? Tidakkah kau melihat kondisi umat Muslim saat ini? Bagaimana akhlaq seorang Muslim saaat ini? Sudah terpancarkah nilai-nilai luhur Islam dalam diri mereka? Bagaimana dengan gaya hidup mereka? Dapatkah dikatakan gaya hidup mereka sesuai dengan gaya hidup seorang Muslim? Berapa banyak anggota dewan yang korupsi, padahal mereka mengaku Muslim? Tidakkah mereka mengerti hukum Islam?”
Telingaku hampir putus dijejali pertanyan-pertanyaannya yang tak perlu ku jawab secara verbal. Kakiku juga ikut gemetar mendengarkan cara pandangnya yang menatap jauh ke depan dan penuh wawasan, padahal dia seusia denganku.
“Lantas, apa hubungan semua itu dengan diriku?”
Mendengar pertanyaanku dia tak mampu lagi bersabar dan dia pun duduk menenangkan dirinya. Lalu salah seorang dari kumpulan pahlawan itu menghampiriku.
“Anak muda, dirimu adalah tunas Islam dan juga tunas bangsa, janganlah kau sia-siakan masa mudamu dengan bermalas-malasan! Carilah ilmu sebanyak mungkin, supaya suatu saat nanti semua permasalahan Islam dan bangsa ini dapat terselesaikan. Bebaskanlah negeri ini dari tangan para penjajah yang selalu menggerogoti negeri ini! Raihlah kembali keagungan Islam yang telah lama sirna! Hanya orang yang seusia denganmu, anak muda, yang dapat mewujudkan cita-cita kami dan harapan tertinggi kami! Karena merekalah para pewaris Islam dan bangsa ini. Dan dirimu adalah sang pewaris diantara para pewaris lainnya. Pewaris carut-marut negeri ini, pewaris Islam yang telah lemah, dan pewaris semua permasalahan yang ada! Camkan hal itu, sang pewaris!!!”
Aku hanya menganagguk pelan dan sekarang aku mengerti makna dari semua pertanyan itu. Sekarang aku merasa ada energi positif baru yang mengalir dalam jiwaku, yang menjelma menjadi sebuah semangat dan pemikiran baru dalam diriku. Energi baru itu begitu meluap-luap dan tanpa aku sadari aku berteriak sekuat tenaga sambil memejamkan mata dan melompat penuh semangat,”akulah sang pewaris Islam dan bangsa ini, akulah yang akan memperbaiki keadaan Islam dan bangsa ini di masa depan!”
Ketika ku buka kembali mataku, aku kaget, karena sekarang aku ada di ruang UKS, bukan di tempat antah berantah yang tidak ku kunal, dan di sekelilingku juga bukan para pahlawan dan replika diriku, tapi semuanya adalah teman-temanku.
Aku pun dipersilahkan pulang untuk istirahat di rumah. Sepanjang perjalanan menuju rumah, aku tidak bisa melupakan kejadian aneh yang telah menimpaku, yang telah mengubah cara pandangku, cara pandang yang jauh ke depan.
Dan sekarang aku mulai berani memikirkan sebuah cita-cita untuk memperbaiki keadaan Islam dan bangsa ini di masa depan nanti. Sebuah cita-cita sejati seorang pewaris, pewaris Islam dan pewaris negeri ini.
Esok harinya aku pergi ke sekolah dengan pakaian yang sedikit mencolok, yang asalnya selalu semrawut sekarang menjadi sangat rapi, pergi ke sekolah pun jauh lebih awal dari biasanya. Dan hal ini merupakan titik tolak pertama dari perubahanku.

“Triiiiiiiiing!!!!!”

Suara panjang bel sekolah berbunyi, menandakan sekolah akan segera dimulai.
Setelah berdo’a, aku melangkah ke depan kelas untuk mengikrarkan janji setiaku dengan lancang dan penuh semangat di depan teman-teman dan Pak Agus.
“Kawan-kawan mulai saat ini aku berjanji akan belajar dengan giat dan mengabdikan diri sepenuhnya untuk Islam dan bangsa ini, karena akulah sang pewaris Islam dan bangsa ini…..! Allahu Akbar….!”
“Dan kita adalah para pejuang muda Islam dan bangsa ini yang selalu berjuang, meskipun hanya dengan sebuah pena!”
“Bukan presiden, wakil presiden atau kabinet baru yang akan mengubah nasib anak bangsa ini, tapi kitalah yang akan mengubah semua nasib ini….!”
Kelas pun hening karena perubahan sikapku yang begitu drastis. Dan teriakan takbir pun membahana di dalam kelasku.
-TAMAT –
 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 25, 2011 by in Features, Personal.
%d bloggers like this: