elfaakir_23

coretan sang fajar

Mengenal Sophist

Mengenal Sophist

Oleh: Kang Daden Robi Rahman*

Makna Sophist dan Kemunculannya

Sophist berasal dari kata yunani Sophistikos, Sophistes berarti “bijaksana, pintar, halus”, dari kata ini Sophist diartikan sebagai seorang yang mencintai kebijaksanaan. Kata Sophist dalam budaya yunani pra-socrates digunakan untuk sinonim dari filosof, professor ataupun guru. Mereka yang memiliki ketrampilan khusus sebagai pembuat kereta perang, senjata dan alat-alat pertempuran disebut sebagai Sophist. Istilah Sophist sudah dikenal bahkan sebelum thales (550 SM) abad ke-6 SM, dengan makna ini Thales bisa disebut juga sebagi seorang Sophist (filosof).

Kata Sophist mengalami perubahan makna ketika memasuki Athena pada pertengahan abad ke-5 SM. Sophist menjadi hanya sebagai nama sebuah gerakan guru keliling yang mengajar untuk mendapatkan uang. Mereka mengajari anak-anak bangsawan Athena, dan mereka yang mampu membayar; cara berdebat, retorika dan orator. Ketrampilan tersebut dibutuhkan oleh masyarakat Athena untuk membela diri dalam persidangan dihadapan dewan mahkamah Athena yang berjumlah 1505 orang dalam arena yang luas sehingga membutuhkan cara mengartikulasikan suara dalam ketrampilan orasi . Athena sejak awal dikenal sebagai negara yang demokratis , meskipun demokrasi Athena belum menyentuh kelompok budak dan wanita, namun dibandingkan Sparta yang menganut pemerintahan oligarki, Athena lebih demokratis.

Perang antara orang-orang Athena dari kota-kota Ionia dengan orang-orang Persia pada permulaan abad ke-5 SM, yang dimenangkan Athena pada pertempuran di Marathon pada tahun 409 SM , memberikan kepercayaan yang luar biasa kepada seluruh masyarakat Athena saat itu. Kemenangan itu memberikan pelajaran bagi penduduk negara-kota Athena, bahwa negara kecil dengan peradaban yang lebih tinggi akan mampu mengalahkan negara besar dengan kebudayaan barbaric atau tradisional. Hal itu mendorong masyarakat Athena untuk mengembangkan diri dengan keilmuan dan ketrampilan. Peluang demikian diambil oleh kelompok Sophist untuk mengajari apa yang mereka butuhkan dengan meminta bayaran. Dari sinilah makna Sophist berubah menjadi kelompok guru keliling yang mengajarkan ketrampilan pidato, retorika, berdebat dan berargumentasi dalam rangka mencari uang.

Kekalahan Athena oleh Sparta pada tahun 404 SM, menyebabkan perubahan landasan nilai-nilai moral yang diyakini selama ini oleh masyarakat Athena. Athena menemukan padanan bagi landasan nilai-nilai masyarakat dengan nilai-nilai yang diyakini masyarakat yang lain. Hal tersebut mengundang perdebatan dalam rangka menemukan nilai hidup yang dianggap paling baik. Jika zaman thales abad ke-6 SM filosof menanyakan; “Terbuat dari apakah dunia?”, “Apa yang membuat dunia bisa bertahan?” maka pada paruh abad ke 5 SM, setelah peristiwa ini, pertanyaan-pertanyaannya adalah; “Bagaimana seharusnya kita hidup?” pertanyaan dasarnya adalah “Apakah kebenaran itu?”. Inilah pertanyaan Socrates; filosof yang hidup saat itu, dengan itulah Socrates dikenal sebagia filosof moral pertama. Pertanyaan-pertanyaan itu pula yang diajarkan Sophist kepada murid-muridnya dalam rangka menguasai wacana.

Ciri-ciri Seorang Sophist

Plato lah yang paling bertanggung jawab atas pandangan modern terhadap Sophist. Plato menggambarkan ciri-ciri seorang Sophist sebagai: 1) Seorang yang mata duitan 2). Seorang yang memakai sulap retorika dan ambigiusitas bahasa dalam rangka meraih dan mendukung rasionalitas yang menyesatkan. 3). Seorang yang tidak perduli dengan kebenaran dan keadilan, melainkan hanya sekedar mencari kekuasaan dengan segala cara agar menang. 4). Menolak Ilmu dan keyakinan 5). Memiliki cara pandang relative, skeptic dan agnostic dalam rangka mengikuti kemana arah argument mengalir, untuk mendapatkan argumentasi yang paling kuat demi memenangkan perdebatan. 6). Suka membantah (guibber) meski telah ada bukti-bukti yang jelas 7). Menuruti selera pribadinya dan tidak perduli dengan pendapat orang lain.

Bagi Sophist apa yang mereka ajarkan tidak ada sangkut pautnya dengan agama atau keutamaan. Mereka mengajarkan ketrampilan berdebat, dan berbagai pengetahuan yang kiranya bisa menunjang ketrampilan itu. Pada pokoknya, seperti para pengacara modern, mereka siap menunjukan bagaimana berdebat demi mempertahankan atau menggugurkan opini yang manapun, dan tidak merasa harus membela kesimpulan-kesimpulan mereka sendiri. Sikap kaum Sophist itu sudah barang tentu mengguncangkan mereka yang menjadikan filsafat sebagai pandangan hidup, yang erat kaitannya dengan agama; dimata mereka ini, kaum Sophist tampak sembarangan dan tak bermoral. Upaya pencarian kebenaran yang dilakukan Sophist mengabaikan pertimbangan-pertimbangan moral. Kaum Sophist bersedia mengikuti suatu argument kemanapun argument itu menuju. Seringkali argument itu membawanya kepada skeptisime.

Banyak sarjana modern menganggap kaum Sophist sebagai pelopor teori pendidikan di Barat. Menurut Jarrett, para ahli Sophist meradikalkan pendidikan dengan cara mempopulerkan pengembaraan intelektual, menilai pentingnya retorika secara berlebihan, dan memperluas pendidikan formal kepada para remaja. Mereka akan menggunakan logika, retorika, bahasa dan sejarah untuk mempengaruhi dan memenangkan perdebatan yang mengarah pada kehidupan sekular. Richard Rorty, seorang ahli filsafat moden yang cukup berpengaruh, mengungkapkan prinsip ahli Sophist yang baru tentang ilmu pengetahuan, bahwa hakikat ilmu adalah tidak memiliki hakikat.

Pemikiran Sopist

Xenophanes (550 SM) seorang Sophist terbesar abad itu, ia lahir di pesisir Yunani (Kolophon, Ionia) Asia Kecil, ia mengatakan; “Kebenaran yang pasti, tak seorangpun tahu, tak akan ia tahu, entah tentang dewa-dewa atau tentang segala hal yang ku katakan, kalaupun harus mengungkapkan kebenaran terakhir, ia sendiri tidak mengetahuinya, sebab segalanya hanya dugaan demi dugaan belaka” Kata katanya yang lain berkaitan dengan dewa-dewa; “Kata orang Ethopia, dewa-dewa berhidung pesek berkulit hitam. Kata orang Thracia, dewa-dewa berambut merah. Andai sapi dan kerbau atau kuda atau singa memiliki tangan dan dapat menggambar, dan dapat membuat patung. Maka kuda akan menggambarkan dewa-dewa mereka seperti kuda. Sapi dan kerbau akan mengambarkan dewa-dewa mereka seperti kerbau. Masing-masing akan membuat dewa-dewa seperti bentuk tubuh mereka sendiri”

Herakleitos (540 SM) ia berasal dari Efesus, sebuah kota di pesisir sama dengan Miletos. Masa kejayaannya pada awal abad 6 SM. Ada dua dictum yang membuatnya terkenal. Yang pertama; kesatuan hal-hal yang bertentangan. Kata Herakleitos, “Jalan naik ke bukit dan jalan turun dari bukit bukanlah dua jalan berbeda dengan arah berbeda, melainkan merupakan jalan satu dan sama.” “Herakleitos muda dan herakleitos tua bukanlah dua individu yang berbeda.” Dictum yang kedua; Realitas pada dasarnya tidak stabil. Segalanya adalah flux, aliran, yang terjadi terus menerus sepanjang waktu. Tidak ada sesuatupun di dunia ini yang terus ada seperti adanya sekarang. Segalanya terus berubah sepanjang waktu. Berbagai hal muncul dengan berbagai cara, dan tidak pernah sama dalam dua titik waktu, hingga akhirnya mereka lenyap.

Protagoras (480 – 411 SM) seorang tokoh Sophist yang paling terkenal terutama karena dictumnya “Human is measure of all things” ia lahir di Abdera, kota kelahiran Demokritus, ia menulis buku On the Gods buku itu dimulai dengan kalimat ”Perihal dewa-dewa, saya tak tahu apakah mereka ada atau tidak, dan seperti apa wujud mereka; sebab ada banyak hal yang mengelak dari pengetahuan yang pasti, ketidakjelasan persoalan karena singkatnya hidup manusia” namun kata-kata yang melambungkan namanya adalah “manusia adalah ukuran segalanya, jika manusia mengganggapnya demikian maka demikianlah adanya, jika tak demikian maka tak demikian pula” doktrin ini kemudian ditafsirkan bahwa setiap manusia adalah ukuran segala sesuatu, dan jika manusia saling berbeda pandangan maka tak ada kebenaran objektif sesuai dengan mana yang benar dan mana yang salah.

Gorgias (483 – 376 SM) juga seorang Sophist, pikiran yang terutama sekali adalah yang berkaitan dengan ketidak mampuan manusia untuk mengetahui, menjelaskan, dan memahami kebenaran. Ia mengatakan “benda itu tidak ada, dan jika ada, kita tidak dapat mengetahuinya; dan seandainya kita dapat mengetahuinya, kita tidak dapat menyampaikan informasi tentang pengetahuan itu”

Pyyrho (360 – 270 S) seorang Sophist yang pernah menjadi serdadu dalam pasukan Aleksander, dan pernah bertugas bersama pasukan itu sampai ke India. Pekerjaan itu rupanya telah cukup memberinya banyak pengalaman akan beragam manusia dan pikirannya. Konon ia mengatakan (sebab dengan pintarnya ia tidak menulis satupun buku) “Mustahil terdapat landasan rasional apapun untuk memilih rangkaian tindakan yang satu daripada lainnya” ini bisa diartikan bahwa seseorang bisa saja cocok dengan adat istiadat negeri manapun yang ia tempati.

Dari pemikiran tokoh-tokohnya, secara sistematis pemikiran Sophist dapat dikatagorikan sebagai berikut;

1. Kelompok al-lā adriyyah (Agnostic)

Kelompok Sophist jenis ini selalu ragu-ragu tentang keberadaan sesuatu sehingga menolak kemungkinan seseorang mendapatkan ilmu pengetahuan (knowledge/certainty). Orang yang seperti ini, pada gilirannya juga akan meragukan sikapnya yang serba meragukan keberadaan segala sesuatu. Istilah yang demikian kemudian dikenal dalam Islam sebagai al-lÉ adriyyah, Disebut dengan demikian karena mereka selalu bilang tidak tahu (lÉ adrÊ, “saya tidak tahu”)

Dalam terminology filsafat Barat; al-lÉ adriyyah adalah mereka yang memiliki faham agnostic, pengertian agnostisisme adalah; keyakinan bahwa mustahil untuk membuktikan ada atau tidak adanya Tuhan. Pengertian yang lainnya adalah; keyakinan akan ketidak mampuan untuk memahami atau memperoleh pengertian, terutama pengertian Tuhan dan tentang asas-asas pokok Agama dan filsafat. Agnostisisme juga diartikan sebagai ajaran yang secara keseluruhan atau sebagian menyangkal kemungkinan untuk mengetahui Alam semesta.

2. Kelompok al-‘indiyyah (Relativ)

Mereka yang selalu bersikap subyektif. Berbeda dengan kelompok pertama, kelompok ini menerima kemungkinan Ilmu pengetahuan dan kebenaran. Tetapi menolak tujuan ilmu pengetahuan dan kebenaran. Bagi mereka, tujuan ilmu pengetahuan dan kebenaran adalah subjektif (indÊ, yaitu “Menurut saya”), bergantung pada pendapat masing-masing.

Relativisme sendiri kemudian menjadi ajaran yang dianut hampir oleh seluruh filosof barat. Ajaran ini menyatakan bahwa semua kebenaran adalah relative. Relativisme etis berpendapat bahwa tidak terdapat kriteria absolut bagi putusan-putusan moral. Menghubungkan kreteria putusan dengan kebudayaan individual, yang memperlihatkan perbedaan perbedaan individual. Joseph Fletcher menganggap moralitas suatu tindakan relative terhadap kebaikan tujuan tindakan itu.

3. Kelompok al-‘inādiyyah, (Skeptic)

Kelompok Sophist yang keras kepala, yang menafikan realitas segala sesuatu (haqaiq al-asyya) dan menganggapnya sebagai fantasi (Awham) dan hayalan semata-mata. Para Sophist dengan pandangan ini tidak akan pernah dapat menjelaskan kedudukan mereka. Kalaupun dapat, satu-satunya kedudukan yang sesuai untuk mereka adalah mendekonstruksi setiap wacana keilmuan.

Paham ini dalam peradaban Barat disebut dengan paham Skeptisisme, paham yang menyatakan bahwa kita tidak dapat mencapai kebenaran, dan tidak dapat mengetahui realitas. Skeptisisme melebar dari ketidak percayaan komplit serta total akan segala sesuatu ke keraguan tentative akan proses pencapain kepastian.

*) Alumni S-2 ISID-GONTOR, Peneliti INSIST

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 21, 2011 by in Pemikiran.
%d bloggers like this: