elfaakir_23

coretan sang fajar

Jawaban Untuk Soal Agama (Part 4)

Pertanyaan Ke-4

Masuknya Islam di Indonesia (salah satunya) melalui cara akulturasi budaya, sehingga terjadi proses Islamisasi budaya lokal. Beri penjelasan dengan mengemukakan beberapa contoh dan bagaimana seharusnya umat Islam melestarikan budaya bangsa?


Jawaban Ke-4

Pada masa dakwah Islam periode awal di Indonesia, Islam disampaikan salah satunya adalah melalui akulturasi budaya sebagai media dakwah yang dapat diterima oleh masyarakat Indonesia secara menyeluruh, misalnya dengan perayaan hari kematian, maka bacaannya diganti dengan yasin dan tahlil, dengan metode wayang yang mengajarkan tentang kebaikan, dengan gamelan, dengan upacara adat yang telah dimasuki nilai-nilai Islam dan kesenian lokal lainnya. Hal tersebut ditujukan supaya Islam dapat diterima secara umum oleh masyarakat sekitar dan membangun citra Islam sebagai agama yang santun. Dan ternyata metode dakwah ini pun menimbulkan hasil yang cukup signifikan, yaitu Islam dapat diterima di masyarakat karena keluwesan ajarannya, meskipun masih tercampur dengan agama lainnya sebagai derivasi dari akulturasi yang tidak segera dibatasi dengan dalil-dalil Islam.

Hasil akulturasi antara budaya dan Islam itu sendiri masih banyak kita temui dalam pengamalan Islam di kehidupan masyarakat. Masih ada pencampur bauran antara mana yang merupakan ibadah, mana yang muamalah, dan mana yang hanya sebatas budaya saja, tidak termasuk pada ibadah. Dan hal tersebut menjadi sebuah masalah yang cukup pelik ketika budaya telah dianggap sebagai sebuah peribadahan, sehingga akulturasi budaya dan Islam yang ditujukan untuk kemudahan dakwah malah menjadi kesusahan dalam hal pemurnian ibadah agar selaras dengan sunnah. Beralasan karena cinta Nabi, tapi malah menyalahi sunnah nabi. Dan yang paling parah adalah sinkretisme aliran kebatinan antara mitologi jawa dengan Islam, sehingga dalam melaksanakan ibadah banyak sekali pereduksian ajaran Islam ke dalam bentuk aliran kebatinan, seperti kejawen yang tidak mewajibkan shalat dalam tataran bentuk ibadah, tapi cukup dengan eling saja, mereka sudah menganggapnya sebagai shalat itu sendiri. Padahal antara ibadah dan non-ibadah itu adalah dua hal yang jelas-jelas berbeda dan tidak dapat disamakan dalam satu alasan: perayaan tradisi kebudayaan dan ibadah.

“barangsiapa yang membuat-buat hal baru dalam urusan ibadah yang tidak ada landasan hukumnya, maka ia tertolak” (H.R. Mutafaq alaihi dari Aisyah R.A)

Dan inilah yang menjadi tantangan bagi ummat Islam Indonesia sekarang: memurnikan kembali aqidah, ibadah, dan Islam dari nilai-nilai yang tidak ada pada Islam dengan mengembalikan segala urusan agama kepada Al-Quran dan As-Sunnah. Termasuk dalam hal pemisahan budaya dan ibadah, agar jelas mana yang budaya dan mana yang jelas-jelas adalah ibadah. Hal tersebut ditujukan untuk menjaga kemurnian ajaran Islam dan menghindari perbedaan dan perpecahan ummat Islam yang disebabkan oleh sinkretisme Islam dan budaya, karena dakwah yang dilakukan oleh para wali songo pun tujuannya hanya sebagai katalisator saja dalam dakwah agar dapat diterima oleh masyarakat luas, bukan untuk dijadikan sebagai suatu hal yang permanen dan dibudayakan padahal jelas-jelas menyimpang dari Al-Quran dan As-Sunnah, dan jelas menyimpang pula dari tujuan utama dakwah para wali songo yang sebenarnya di tanah air, yaitu menyampaikan risalah suci Nabi Muhammad kepada Indonesia, sehingga re-Islamisasi budaya untuk mengembalikan yang mana yang berasal dari Islam dan mana yang bertentangan dengan Islam adalah sebuah gagasan yang harus dilakukan agar setiap ibadah yang kita lakukan jelas sesuai dengan sunnah sehingga kemuliaan dalam ber-Islam dapat diraih secara bersama.

Dalam menyikapi dan melestarikan budaya di masa kini, Islam hanya memberikan batasan-batasan yang sangat jelas, yaitu apakah bertentangan dengan Islam atau tidak. Karena pada dasarnya budaya itu adalah sesuatu yang bersifat mubah/ boleh dalam Islam, sehingga baik dilakukan ataupun tidak dilakukan, tetap tidak akan mendapat pahala dari Allah sebagai balasan dari pelaksanaan budaya tersebut. Tapi ketika jelas-jelas budaya tersebut bertentangan dengan Islam, maka balasannya adalah adzab dari Allah baik di dunia ataupun di akhirat sebagai sebuah balasan terhadap pendustaan dan pembangkangan dalam agama.

Beberapa contoh budaya yang terlahir karena akulturasi Islam dengan budaya lokal adalah:

  • Wayang yang digunakan sebagai sarana dakwah oleh wali songo yang dimana pada cerita pewayangan itu dimasukan nilai-nilai agama Islam sebagai bentuk pencitraan terhadap Islam.
  • Gamelan dan lagu tradisional yang digunakan sebagai sarana untuk mempermudah langkah dakwah agar dapat diterima di masyarakat dan dapat dengan mudah diingat
  • Bentuk bangunan masjid yang tidak berkubah, tapi berupa atap tumpang yang berbentuk limas segiempat.
  • Aksara Arab-Jawa sebagai pengantar dalam penterjemahan kitab-kitab klasik ke bahasa Jawa
  • Seni kesastraan seperti hikayat mahabrata yang diubah menjadi hikayat pandawa lima.

Paradigma Islam dalam memandang dan melestarikan sebenarnya hanya terdapat pada apakah budaya tersebut bertentangan dengan Islam atau tidak, dan itulah paradigma sebenarnya yang ada dalam Islam, bukan hanya mengikut pada orang-orang terdahulu yang telah binasa. Selama tidak bertentangan dengan Islam, maka hukumnya adalah tetap mubah, tapi ketika jelas-jelas bertentangan bahkan bisa menimbulkan kemusyrikan, maka hukum melestarikan dan mengikutinya adalah haram dan tercela.

Diantara budaya yang bisa tetap dipertahankan adalah:

  • Budaya gotong-royong dan tata krama
  • Masjid-masjid tradisional peninggalan ulama terdahulu
  • Khat dan kaligrafi
  • Wayang dan gamelan, selama tidak ada pengkeramatan pada malam-malam tertentu untuk wayang tersebut
  • Pembagian bubur di Aceh pada setiap bulan Ramadhan

Dan diantara akulturasi budaya yang bertentangan dengan Islam adalah:

  • Upacara kehamilan yang pada pelaksanaannya disertai dengan mandi kembang, pembacaan surat Yusuf atau Maryam dengan mengharapkan anak yang lahir bisa setampan Nabi Yusuf atau sesholehah Siti Maryam, padahal Islam jelas-jelas tidka pernah mencontohkan hal yang demikian.
  • Pengkeramatan terhadap wayang, gamelan, keris, dan benda pusaka lainnya
  • Weton, suluk, dan ramalan jawa klasik lainnya
  • Kejawen dan aliran kepercayaan lainnya
  • Upacara-upacara meminta berkah, sekalipun di dalamnya dibacakan ayat-ayat Al-Quran
  • Penggunaan ayat-ayat Al-Quran untuk keperluan kanuragan dan ilmu hitam lainnya

Sehingga dalam menyikapi budaya yang bertentangan, cukuplah dengan menjadikannya sebagai rangkaian dari sejarah dan tidak perlu untuk terus-menerus diamalkan oleh ummat Islam, karena hal tersebut bisa membahayakan pada keimanan dan amal sholeh kita.

Wallahu A’lam Bish Showwab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 4, 2012 by in Islam.
%d bloggers like this: