elfaakir_23

coretan sang fajar

Antara Fitnah dan Autokritik

Pemberitaan miring media terhadap Islam seolah merupakan hal yang sangat lumrah, padahal apa yang diberitakan belumlah tentu kebenarannya. Dimulai dari kasus tuduhan Islam sebagai agama terorisme, pesantren sebagai sarang ideologi terorisme, oraganisasi keislaman sebagai media rekrutmen teroris, bahkan sampai penistaan agama Islam itu sendiri oleh berbagai peristiwa yang ada. Saat ummat Islam berseteru dengan agama Syi’ah, media seolah memberikan pesan bahwa Islam lah yang menjadi sumber pertengkaran agama tersebut. Tapi saat muncul “innocence of moslem”, media seolah bungkam tak mampu berkata fakta bahwa Islam sedang dilecehkan. Pun dengan kemunculan karikatur Nabi di Perancis yang mengatasnamakan kebebasan berpendapat dan berekspresi, ummat Islam dipaksa bungkam dengan pernyataan bahwa Perancis sangat menjunjung tinggi kebebasan berekspresi dan berpendapat. Tapi berbeda cerita saat Perancis dengan terang-terangan mengkampanyekan wacana anti Islam dan anti hijab, tidak ada media yang mempermasalahkan hal tersebut, kecuali dari kalangan media minoritas milik ummat Islam sendiri.

Implikasi yang didapat ummat Islam dari pemberitaan miring pun sangat beragam, mulai dari sikap antipati terhadap ummat Islam, stigma teroris bagi para pemelihara jenggot, bahkan sampai pada keputusan bahwa Islam adalah agama yang primitive dan tidak humanis. Semua implikasi itu, bukan hanya didapat oleh sebagian ummat Islam saja, tetapi oleh keseluruhan ummat Islam di belahan dunia manapun. Ibaratnya satu tubuh, yang terkena busuk hanyalah kaki, tapi dia akan dijauhi oleh semua orang karena boroknya itu. Islam pun dijauhi bukan hanya oleh orang-orang non-Islam, tapi sampai pada tahapan Islam dijauhi oleh orang Islam itu sendiri. Mereka tidak merasa percaya diri saat menggunakan identitas keislaman dalam keseharian mereka. Jilbab syar’i dan jenggot menjadi dua hal yang tabu untuk dimiliki, lelaki bercelana cingkrang dijauhi dengan stigma calon teroris, pemuda yang mendekatkan diri di masjid dicap terindikasi teroris, lembaga keislaman dituduh sebagai penyebar virus terorisme, atau yang lebih terang-terangan lagi dengan kampanye liberalisme Islam agar lebih ‘humanis’.

Sebuah Keniscayaan dan Autokritik.

Permusuhan abadi Yahudi-Nasrani kepada ummat Islam merupakan alasan yang paling mendasar terhadap setiap fitnah yang menimpa ummat Islam saat ini. Hal ini dengan jelas telah difirmankan oleh Allah SWT: “dan sekali-kali tidak akan pernah ridho kepadamu Yahudi dan Nasrani sampai kamu mengikuti millah mereka…” (Al-Baqarah:120). Dan firman Allah telah terbukti kebenarannya, dengan maraknya fitnah, peperangan, dan propaganda Yahudi-Nasrani yang ditujukan kepada Islam dari semenjak hadirnya Islam di dunia dengan tujuan agar ummat Islam mengikuti millah mereka (Yahudi-Nasrani). Millah dalam arti luas, bukanlah hanya berupa agama saja. Tapi juga mencakup pemikiran, gaya hidup, paradigma, dan ideologi. Dan inilah yang berusaha diterapkan oleh Yahudi-Nasrani melalui media yang ada: pembangunan paradigma buruk Islam di kepala setiap muslim.

Selain faktor eksternal dari Yahudi-Nasrani, ada juga faktor internal yang sering kali dilupakan oleh ummat Islam sendiri, padahal Rasulullah telah bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud).

Hadits tersebut sangat sesuai dengan kondisi ummat saat ini yang merupakan pemeluk agama kedua terbesar di dunia setelah pemeluk agama Kristen. Kuantitas yang sangat banyak memang, tapi kualitas masih dipertanyakan. Untuk di Indonesia saja, ummat Islam berjumlah 85% dari seluruh penduduk Indonesia, tapi keberadaan ummat Islam di Indonesia tak jauh layaknya pasar konsumsi yang menjadi incaran para produsen. Ummat Islam selalu dirangkul saat menjelang pemilihan umum, tapi dituduh mengganggu stabilitas negara saat ada insiden kecil terjadi. Ummat Islam berjumlah sangat banyak, tapi tetap saja menjadi budak perekonomian bangsa asing yang juga bukan Islam. Bahkan untuk keputusan kebijakan publik pun ummat Islam selalu menjadi golongan yang dikorbankan demi meraih kebahagiaan segelintir orang saja.

Penyakit cinta dunia dan takut mati seperti yang telah disebutkan oleh Nabi Muhammad SAW dengan jelas telah menjangkiti golongan ummat Islam mayoritas di dunia. Hal ini ditandai dengan jauhnya nilai-nilai keislaman dalam kehidupan seorang muslim mayoritas. Sikap kecondongan berlebih terhadap dunia pun kini telah menjadi jati diri muslim mayoritas. Keuntungna dunia jauh lebih dicintai dan diburu daripada janji Allah akan surga-Nya kelak. Bahkan dunia jauh lebih dicintai dari pada Allah, Nabi Muhammad, dan sunnah-sunnah-Nya. Sehingga pantas sekali jika rasa takut kepada ummat Islam telah dihilangkan dari dada musuh-musuh Islam, dan ummat Islam pun layaknya bahan konsumsi yang diperebutkan oleh golongan yang lain.

Selain penyakit alwahn, yang menjadi penyebab lemahnya kualitas ummat Islam juga diakibatkan oleh ditinggalkannya Al-Quran dan As-Sunnah oleh ummat Islam sebagai pedoman kehidupan. Al-Quran dan As-Sunnah merupakan pedoman kehidupan utama setiap muslim, bahkan menjadi sumber utama hukum dan asas ideologi Islam yang wajib hukumnya untuk dijalankan secara keseluruhan oleh seluruh ummat Islam. Saat Al-Quran dan As-Sunnah ditinggalkan oleh ummat Islam, maka apalagi yang tersisa dari Islam selain hanya namanya saja?

Hal ini senada dengan hadits yang berbunyi: Dari Ali bin Abi Thalib R.A, telah bersabda Rasulullah SAW: “Akan datang suatu zaman di mana tidak tersisa dari Islam, kecuali tinggal namanya saja, tidak tersisa dari Alquran kecuali tinggal tulisannya saja, masjid-masjid mereka megah dan semarak, tetapi jauh dari petunjuk Allah, ulama- ulama mereka menjadi manusia- manusia paling jahat yang hidup di bawah kolong langit, dari mulut mereka ke luar fitnah dan akan kembali kepada mereka.” (HR Baihaqi)

Solusi

Beragam solusi ditawarkan oleh ummat Islam dalam menghadapi setiap fitnah yang ada sekarang ini, baik berupa aksi solidaritas, demo, pembagian sirah nabawiyyah, dan aksi positif lainnya. Kalimat takbir dan seruan “Al-Islaamu ya’luu wa laa yu’laa alaih” yang dikumandangkan dimana-mana menolak penghinaan Yahudi-Nasrani terhadap Islam, merupakan indikasi bahwa hati kita belum mati untuk membiarkan Islam terhina. Tapi setiap aksi yang dilakukan, hanyalah sekedar aksi musiman saat tidak ada perubahan yang nyata dalam setiap insan muslim yang ada. Setidaknya ada beberapa hal yang patut menjadi perhatian utama dan patut difollow up oleh setiap muslim secara personal (bukan kolektif), untuk selanjutnya membuahkan hasil berupa kebijakan kolektif yang mewakili aspirasi ummat Islam dan aplikatif agar Islam tidak lagi terhina.

  1. Isyhaduu bianna muslimun

Begitu banyak ummat muslim yang merasa risih dan tidak percaya diri dengan jati diri sebagai seorang muslim, karena mereka ragu bahwa dengan menegaskan diri sebagai seorang muslim akan lebih memanusiakan manusia. Hingga pada akhirnya mereka menjadi sosok pribadi yang bias akan identitas. Mengaku sebagai seorang muslim, tapi jauh dari pengamalan nilai-nilai Islam. Mereka lebih bangga mengaku sebagai seorang yang mengikuti trend barat daripada mengakui diri sebagai seorang muslim. Hingga akhirnya muslim mengalami krisis identitas sebagai seorang muslim. Dan tentu implikas logisnya adalah tidak teramalkannya nilai-nilai Islam secara kaffah dalam kehidupan sehari-hari. Dan tentu juga saat Islam hanya sebatas nama yang tidak membumi dalam wujud amal shalih, orang-orang hanya akan tahu Islam dari sisi gelapnya saja seperti fitnah yang telah dihembuskan oleh Yahudi-Nasrani.

Menegaskan diri sebagai seorang muslim oleh seorang muslim merupakan hal yang patut dilakukan. Karena muslim bukanlah sebatas identitas keagamaan saja. Tapi juga harus terwujud dalam kehidupan nyata sebagai relevansi antara ilmu dan amal. Selain itu dengan menegaskan diri sebagai seorang muslim, kita akan mempunyai batas yang nyata antara kita sebagai seorang muslim dengan orang non muslim. Mungkin terkesan ekslusif, saat kita menegaskan perbedaan antara kita dengan orang non Islam, tapi itulah Islam. Islam mempunyai aturan tersendiri bagi manusia untuk membedakan antara manusia dan hewan, membedakan antara calon penghuni surga dan calon penghuni neraka, dan membedakan antara mana hamba yang mencintai Allah dan mana yang membangkang kepada Allah. Bukankan jelas bahwa nama lain dari Al-Quran sendiri adalah Al-Furqan yang artinya pembeda. Pembeda yang akan memanusiakan manusia dan memerdekakan manusia dari belenggu penjajahan hawa nafsu.

Menegaskan diri sebagai seorang muslim hanyalah membedakan secara jelas batas-batas kita sebagai seorang hamba dan seorang muslim dengan orang non muslim. Tapi dalam aktivitas keseharian, kita haruslah tetap menjalin hubungan sosial yang baik dengan berbagai elemen masyarakat. Bukankah Nabi Muhammad SAW pun bersosial dengan sangat baik, sekalipun dengan orang Yahudi?. Menegaskan diri sebagai seorang muslim artinya menegaskan sepenuh hati bahwa kita harus selalu berusaha untuk merealisasikan nilai-nilai Islam dalam setiap kehidupan kita.

Menegaskan diri sebagai seorang muslim bukanlah berarti menghinakan diri dengan stigma negatif tentang Islam. Melainkan menegaskan kemuliaan diri dengan mengamalkan ajaran Islam secara kaffah, bahkan sampai pada tahap berkarya maksimal untuk mengembalikan kembali izzah Islam yang dulu pernah diraih oleh ummat Islam sepanjang 7 abad. Bahkan bukti nyata kejayaan Islam masih tetap berdiri sampai sekarang dari mulai Andalusia sampai ke Mongolia yang tetap dikagumi dan dipelihara sebagai saksi peradaban terhebat yang membawa pada masa keemasan ilmu pengetahuan.

Menegaskan diri sebagai seorang muslim bukanlah menjadi seorang ekstrimis dan teroris, karena tidak pernah ada dalam Islam perintah untuk melakukan ekstrimisme dan terorisme. Justru Islam hadir sebagai rahmat bagi semesta alam yang harus disikapi dengan sikap nyata kita selaku pengemban amanah khalifah fil ardi. Dan inti dari menegaskan diri sebagai seorang muslim adalah menjadi agen muslim yang taat pada aturan Islam dan santun terhadap lingkungan; mampu menjadi katalisator terwujudnya peradaban yang jauh lebih baik; menjadi warna yang mewarnai peradaban tanpa terwarnai oleh warna ideologi non-Islam; menegaskan sikap nyata personal untuk menjadi rahmat bagi semesta alam; mewujudkan diri sebagai satu-satunya ummat terbaik; dan menjadi agen Islam yang memperkenalkan dan menyebarkan keindahan dan keagungan Islam ke semua penjuru dunia dengan menjadi uswah nyata Islam bagi lingkungan sekitar.

  1. I’tisham bil Quran was Sunnah

Kita semua mengetahui bahwa Al-Quran dan As-Sunnah merupakan sumber utama hukum Islam, yang dari keduanya lah kita bisa mengenal dan mengamalkan ajaran Islam. Al-Quran dan As-Sunnah pun menjadi landasan amal sholeh dalam ber-Iman, ber-Islam, dan ber-Ihsan. Berpegang teguh pada Al-Quran dan As-Sunnah juga merupakan amanat Nabi Muhammad SAW: “aku tinggalkan untuk kalian dua perkara, yang kalian tidak akan pernah tersesat selama kalian berpegang teguh pada keduanya, yaitu Al-Quran dan As-Sunnah”. Ibarat panduan kehidupan, Al-Quran dan As-Sunnah menjadi pandan utama berislam secara kaffah dan menjadi referensi rujukan utama saat menghadapi masalah kehidupan dan berislam, karena Al-Quran dan As-Sunnah memang menjadi kunci utama dalam menjalankan ajaran Islam secara kaffah.

Berpegang teguh kepada Al-Quran dan As-Sunnah, artinya menjadikan Al-Quran dan As-Sunnah sebagai landasan dan sandaran hidup; membumikan keseluruhan nilai-nilai Islam dalam segala aspek kehidupan untuk mewujudkan kembali peradaban dan kejayaan Islam; mengamalkan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya secara kaffah untuk menegaskan syumuliyyatul Islam.

Saat Islam telah terlaksanakan secara maksimal dalam setiap kehidupan seorang muslim, tentulah ini akan menjadi kekuatan tersendiri yang akan membuat musuh-musuh Islam segan dan takut dengan keagungan dan kejayaan Islam. Dan inilah yang menjadi PR utama ummat Islam: menegakkan kembali kalimatullah dengan membumikan keseluran nilai-nilai Islam.

  1. Amar ma’ruf nahyi munkar

Setelah berjati diri seorang muslim dan berpegang teguh pada Al-Quran dan As-Sunnah, maka yang harus kita lakukan selanjutnya adalah dengan melaksanakan dakwah sebagai corong suara Islam dalam menegakkan kebenaran. Seruan pada kebaikan dan melarang pada kemunkaran menjadi dua kata kunci utama dalam dakwah Islam. Dan dakwah pun harus dilakukan dengan metode yang baik pula seperti metode yang disebutkan dalam Q.S. An-Nahl: 125, yaitu dengan hikmah, nasihat yang baik, dan dengan berdebat dengan cara yang baik pula.

Ketiga metode tersebut bisa dielaborasi menjadi metode yang lain, baik berupa dakwah bil kitab, bil hal, bil maal, ataupun bil lisaan. Karena tujuan dari dakwah itu sendiri adalah untuk menyampaikan kemuliaan dan keagungan Islam kepada seluruh manusia dengan cara yang terbaik pula, terutama kepada kalangan orang-orang yang belum mengenal ajaran Islam yang sebenarnya.

Dengan melalui dakwah, orang lain bisa mengetahui keagungan dan keindahan Islam. Apalagi jika apa yang menjadi bahan dakwah kita dibuktikan dengan sikap kita yang sangat selaras dengan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alaamin. Tentu hal tersebut akan menghapuskan stigma buruk Islam. Karena apa yang dilihat dalam realita nyata seorang muslim jauh lebih mengena daripada sekedar perkataan belaka. Maka jadilah seorang muslim yang mampu berdakwah bukan hanya sekedar retorika saja, tapi harus menjadi seorang penda’i yang mempunyai relevansi nyata antara apa yang disampaikan dengan apa yang nampak dalam pengamalan.

  1. Do’a

Doa merupakan senjata utama seorang muslim yang sering kali dilupakan dalam menghadapi pelbagai fitnah yang menimpa ummat Islam. Padahal dengan do’a lah kondisi terdekat seorang muslim dengan Allah, sehingga saat berdo’a sesungguhnya kita mengadukan masalah kita kepada Tuhan semesta alam yang tidak ada sesuatu yang tidak mungkin bagi-Nya. Janji Allah untuk senantiasa menjawab setiap do’a seorang muslim haruslah menjadi motivasi kita untuk tidak melupakan peran Allah dalam setiap penyelesaian permasalahan yang kita hadapi, terutama permasalahan yang berkaitan dengan kemuliaan Islam.

Bahan Evaluasi Kita

Saat kita terpojokkan dengan berbagai fitnah yang ada, kita selalu menanggapinya dengan berbagai cara sebagai wujud respon kita baik respon positif ataupun respon positif. Kemunduran ummat Islam seolah menjadi sebuah keniscayaan yang dibiarkan begitu saja mengalir hingga datang ketetapan dari Allah. Tapi pernah kah kita mempertanyakan pada diri kita masing-masing tentang kualitas iman kita dalam wujud zhahir dan bathin. Apakah masih tetap bergantung pada Allah dan mencinta Allah, apakah sudah ternoda dengan niatan yang lain. Sehingga selain mempermasalahkan dari faktor eksternal dari kebencian natural Yahudi dan Nasrani kepada, kita juga harus bercermin pada diri sendiri terkait permasalahan ummat ini, apakah kita termasuk bagian dari masalah ataukah bagian dari solusi? Karena ummat Islam ini adalah ummat yang satu, yang keberadaannya tergantung dari setiap insan yang mengaku berjati diri muslim.

Bagaimana bentuk pengabdian cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya? Sudahkah selaras dengan apa yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW?

Bagaimana dengan amal shalih kita? Sudah layakkah kita dikatakan sebagai hambanya yang mulia untuk kembali menegakkan kemuliaan Islam?

Seberapa banggakah kita dengan Islam? sudahkah terwujudkan dalam tindakan nyata keseharian kita?

Dan pertanyaan lainnya yang dapat kita elaborasi mempertanyakan peran kita dalam kesatuan ummat ini. Bermuhasabah sebelum dihisab untuk memformulasikan solusi nyata dalam program perbaikan ummat sebelum ummat ini semakin jadi bahan ‘makanan’ Yahudi-Nasrani. Karena harapan itu masih ada.

Percayalah, kawan!

Bahwa Yahudi-Nasrani baru akan takut kepada ummat Islam saat kita kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah, sehingga shaff kita kembali rapat seolah bangunan yang kokoh. Bahkan jumlah shaff sholat shubuh di setiap masjid sama jumlahnya dengan jumlah shaff saat shalat jum’at. Saat infaq yang kita keluarkan sama besarnya dengan jumlah uang yang kita keluarkan ketika belanja di supermarket. Saat setiap nilai keimanan kita tercermin dalam setiap desah nafas dan langkah hidup kita. Saat kita mendeklarasikan diri: “akulah muslim yang akan menggenggam peradaban dan membungkam Yahudi-Nasrani kelak”.

 

 

2 comments on “Antara Fitnah dan Autokritik

  1. hanifah
    September 25, 2012

    semangat menuntut ilmu, semangat mengamalkan, komunikasi yang baik, silaturrahim yang terjaga, senantiasa menjaga kehormatan, menampakkan wajah yang menyenangkan, berpenampilan yang bersih dan rapi, intinya tunjukkan sikap yang baik pada masyarakat, maka insya Allah tidak ada yang mengecap kita sebagai teroris, walaupun dengan hijab syar’i, janggut, tidak isbal, yang katanya merupakan tanda-tanda teroris…
    semoga kita selalu diberi hidayah untuk melaksanakannya…

    • elfaakir
      September 27, 2012

      aamiin.
      syukran atas masukannya, mbak.
      mungkin kalo meminjam istilah mbak Hanum Salsabiela Rais adalah dengan “menjadi agen Islam yang baik dan santun”
      semoga kita diberikan keistiqomahan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 25, 2012 by in Pemikiran.
%d bloggers like this: