elfaakir_23

coretan sang fajar

Agar Iman Semanis Madu

 

Keimanan adalah hal yang bersifat immateri, namun keimanan sendiri dapat dirasakan keberadaannya bahkan manisnya keimanan dapat dirasakan oleh semua orang yang mau untuk merasakannya. Dikatakan orang yang mau, karena ada segolongan orang yang tidak menginginkan untuk merasakan manisnya iman tersebut yang ditandai dengan pembangkangan mereka terhadap apa-apa yang telah digariskan oleh Allah, beriman secara parsial, banyak melakukan maksiat, dan penolakan secara eksplisit terhadap keimanan tersebut seperti apa yang dilakukan oleh orang-orang munafiq. Sehingga merasakan manisnya iman itu sendiri merupakan hal yang sangat didambakan oleh setiap muslim manapun.

Keimanan semanis madu, mungkin kata itulah yang mewakili nikmatnya keimanan jika kita mampu mencapainya. Hal ini terbukti dengan generasi syuhada yang mereka berani mati hanya karena keimanan mereka, ataupun Bilal yang keukeuh berkata “ahad… ahad…” ketika dia disiksa oleh majikannya untuk kembali kepada kekafiran, atau mungkin dengan kecintaan Anshor kepada Muhajirin yang dibuktikan dengan kerelaan memberikan separuh bahkan keseluruhan harta Anshor kepada Muhajirin. Dan tentunya untuk meraih manisnya iman tersebut, Rasulullah SAW pun telah memberikan tips dan trik nya, seperti yang ada dalam hadits:

Dari Anas, dari Nabi SAW beliau bersabda: “Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman. (yaitu) menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya, mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan benci kembali kepada kekufuran sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka.” (HR Bukhariy)

Dari hadits tersebut, dapat ditarik pelajaran, bahwa ada tiga cara untuk dapat merasakan manisnya iman:

  1. Mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi apapun

Menempatkan cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya bukanlah sebuah perkara yang mudah, karena bertemu dengan keduanya pun kita belum pernah, lantas bagaimana kita bisa untuk mencintainya sementara kita belum pernah bertemu? Pertanyaan tersebut mungkin terlintas di dalam pikiran kita, tapi Allah dan Rasul-Nya telah memberikan petunjuk cinta-Nya kepada kita semua. Tidakkah kita berpikir bahwa Allah senantiasa mencintai kita dengan nikmat tak terhitung yang selalu dapat kita rasakan di setiap pagi hari semenjak kita bangun tidur hingga kita akan tertidur lagi? Tidaklah Allah pernah lupa untuk mencintai kita sesaat pun. Cinta-Nya abadi dan suci, tidak akan pernah terlupa untuk setiap makhluk hidup yang ada di langit dan bumi. Lantas masihkah kita akan membalas cinta Allah dengan kebencian dan kemaksiatan kita?

Pun dengan kecintaan Rasulullah Muhammad SAW kepada kita, bahkan di penghujung hayatnya, beliau masih mengingat kita: “ummatku… ummatku…” sebagai wujud kekhawatiran beliau kepada ummatnya yang tercinta setelah kepergian beliau. Bahkan Rasululllah pun memberikan berjuta hikmah dan petuah yang patut kita contoh untuk menjadi seorang manusia idaman langit dan bumi. Maka apakah kita belum bisa untuk mencintai Rasulullah SAW ini?

Mencintai orang tua, keluarga, dan apa yang kita miliki itu biasa. Tapi saat kita bisa menempatkan kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya melebihi dari segala apapun, maka inilah yang LUAR BIASA. Karena dengan cinta suci inilah, seorang Bilal bisa tetap bertahan di tengah deraan siksaan majikannya di tengah padah pasir yang tandus. Itulah kekuatan cinta kepada Allah dan Rasulnya. Begitupun dengan kita dituntut untuk dapat mencintai Allah dan Rasul-Nya, bukan cinta yang hanya kata. Tapi dengan cinta yang berupa aksi nyata dalam realita kehidupan kita dengan senantiasa mengikuti jejak langkah suci Rasulullah SAW dan mengamalkan agama Islam secara kaffah sebagai agama yang diridhoi oleh Allah SWT

  1. Mencintai seseorang hanya karena Allah

Mencintai seseorang selain Allah dan Rasulnya, merupakan hal yang wajar dan manusiawi untuk seluruh ummat manusia. Mungkin kita akan bertanya: “lho itu kan namanya menduakan cinta kepada Allah”. Menanggapi pernyataan seperti itu, ada seseorang yang telah lebih dulu bertanya tentang cinta ini.

Sewaktu masih kecil, Husain kecil bertanya kepada ayahnya, sayyidina Ali R.A: “apakah engkau mencintai Allah?” Ali menjawab: “Ya”. Lalu Husain bertanya lagi: “apakah engkau mencintai kakek dari ibuku (Nabi Muhammad SAW)?” Ali kembali menjawab: “Ya” Lalu Husain bertanya lagi: “apakah engkau mencintai ibuku (Siti Fathimah R.A)?” lagi-lagi Ali menjawab: “Ya”. Husain kecil kembali bertanya: “apakah engkau mencintai aku?” Ali pun masih menjawab: “Ya”. Terakhir Husain kecil bertanya lagi: “wahai ayahku, bagaimana engkau menyatukan begitu banyak cinta di hatimu?”. Kemudian sayyidina Ali menjelaskan “wahai anakku, pertanyaanmu hebat! Cintaku kepada kakek dari ibumu, kepada ibumu, dan kepada kamu sendiri adalah karena cinta kepada Allah, karena sesungguhnya semua itu adalah cabang-cabang cinta kepada Allah SWT”. Setelah mendengar penjelasan itu, maka Husain kecil pun mengerti.

Dengan menempatkan kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya sebagai puncak cinta kita akan menjadikan kecintaan kita kepada orang lain menjadi cabang cinta kita untuk menguatkan cinta kita kepada Allah. Kita tidak akan mencintai orang lain karena dirinya sendiri, tapi karena kecintaan kita kepada Allah. Pun sebaliknya, kita tidak akan membenci seseorang karena dirinya sendiri, tapi karena kebencian kita akan pembangkangan orang tersebut kepada Allah. Seperti apa yang dilakukan oleh guru-guru kita yang seringkali mengatakan kepada lawan debatnya: “saya tidak membenci saudara, tapi saya hanya tidak menyukai ideologi yang saudara pegang teguh (ideologi non Islam)”. Dengan hal ini pula, maka kecintaan kita kepada Allah akan selalu terjaga, karena dengan kita mencintai seseorang yang mencintai Allah akan terjadi proses saling menguatkan dalam mencintai Allah dan mencari keridhoan Allah secara bersama-sama.

  1. Benci untuk kembali kepada kekufuran, seperti bencinya untuk dilemparkan ke dalam neraka

Salah satu karakter seorang muslim itu adalah dia benci untuk dikembalikan kepada kekufuran. Karena dia telah tahu bahwa surga tidak layak untuk seseorang yang telah berani kufur kepada pencipta surga. Dan satu-satunya tempat yang layak bagi seorang kafir hanyalah di neraka, tidak ada yang lain lagi. Sehingga kebencian untuk kembali kepada kekufuran menjadi salah satu dari tiga hal yang wajib ditempuh untuk merasakan iman semanis madu.

Kebencian untuk kembali kepada kekufuran juga yang menbuat para sahabat menjadi sosok-sosok muslim militan yang teguh membela agama Allah, tak takut untuk mati, dan tak takut untuk hidup. Bagi mereka hidup ini berasal dari Allah dan hanya untuk dipersembahkan kembali kepada Allah. Dan dengan kebencian ini pula seseorang akan terus menggenggam keimanannya kepada Allah walau sampai harus syahid meregang nyawa. Adakah diantara kita yang masih seperti itu?

Seperti itulah rahasia untuk meraih kelezatan iman semanis madu. Keimanan bukanlah candu seperti apa yang Karl Marx ditengah keputus asaannya memahami agama yang tidak ilmiah selain Islam. Tapi keimanan adalah alasan keberadaan kita ada di dunia dan alasan kelayakan kita untuk masuk ke surga dan bertemu dengan Allah disana. Karena hanya agama Islam lah satu-satunya agama yang benar yang keimanannya bisa dirasakan semanis madu dan selezat coklat, bukan agama yang lain.

Refleksi

Sudahkah kita mengamalkan ketiga hal tersebut untuk dapat merasakan keimanan selezat coklat dan semanis madu serta dirindukan surga-Nya dan diundang untuk bertemu dengan Allah di altar suci-Nya di atas ‘Arsy??

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 14, 2012 by in Pemikiran.
%d bloggers like this: