elfaakir_23

coretan sang fajar

Pertemuan Singkat Bersama Kang Akmal Sjafril

Pertemuan Singkat Bersama Kang Akmal Sjafril

Oleh: Lulu Fajar Ramadhan

Gebyar Manarul Ilmi (G-Mail), sebuah kegiatan syi’ar tahunan milik JMMI ITS menyuguhkan beragam kegiatan istimewa. Seminar pra nikah, lomba business plan, Festival Anak Sholeh dan Sholehah, pengobatan gratis, seminar entrepreneur, bahkan sampai bedah buku juga.

Dan untuk kesempatan kali ini, Alhamdulillah ana masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk menuliskan segenggam inspirasi yang ana dapat dari pertemuan ana dengan intelektual muda Islam yang juga pendiri Indonesia Tanpa JIL. Beliau adalah Kang Akmal Sjafril, penulis buku best seller “Islam Liberal 101” yang pada kesempatan kali ini menjadi salah satu rangkaian acara G-Mail tertanggal 09maret2013.

Dalam kegiatan bedah buku “Islam Liberal 101” di Manarul Ilmi, Kang Akmal Sjafril mengemasnya dalam sebuah judul yang lebih ciamik, yaitu: “Islam Liberal, Antara Mitos dan Tabir”

bedah buku Islam Liberal 101

Berikut catatan yang sempat ana sarikan selama menjadi moderator beliau.

***

Islam liberal, seringkali dikenal sebagai Islam yang sesuai dengan modernitas kekinian. Sehingga seringkali orang-orang awwam disilaukan dengan istilah palsu yang disematkan kepada para penggiat liberalisme dengan istilah: cendikiawan muslim/ muslim cendikia. Alih-alih mengedepankan sisi intelektualitas mereka untuk menerangi ummat ini, yang ada malah membenturkan nilai-nilai Islam itu sendiri. Hal ini terbukti dari statement-statement mereka yang sangat bertentangan dengan Islam itu sendiri, yang kemudian dalam bedah buku kali ini disebut dengan mitos, misalnya:

1.        Mitos #1: Truth Claim oleh Luthfi Assyaukanie

“Islam liberal adalah Islam yang nonortodoks, kompatibel dengan perubahan zaman dan berorientasi pada masa depan”

Pernyataan Luthfie Assyaukanie seolah mempelintir inti dari Islam sendiri, seolah dia ingin menyatakan bahwa:

Islam adalah sebuah agama yang ortodoks dan terbelakang, hanya mengurusi masalah-masalah fiqhiyyah saja; tidak kompatibel dengan zaman; dan tidak berorientasi masa depan, hanya cocok untuk masa diturunkannya Islam pada zaman Nabi Muhammad saja.

PADAHAL NYATANYA TIDAK SESEDERHANA APA YANG LUTHFI ASSYAUKANIE PIKIRKAN

Islam adalah agama yang sangat modern dengan konsepsi Tauhidullah sebagai pondasi agama Islam yang sangat logis-rasional, hal ini terbukti dengan dalil-dalil naqli ataupun dalil ‘aqli Islam yang mampu dibuktikan dengan metode-metode ilmiah yang ada. Kompatibel dengan perubahan zaman, terbukti dengan selalu sesuainya dan bisa diterapkannya Islam dalam setiap zaman dan tempat tanpa harus melalui perubahan-perubahan yang bersifat total. Islam pun merupakan agama yang berorientasi masa depan, hal ini terbukti dengan pandangan-pandangan Islam yang modern dan solutif dalam menghadapi permasalahan-permasalahan kekiniian, misalkan dengan sistem ekonomi syari’ah yang terbukti tangguh dalam menghadapi ancaman-anacaman ekonomi yang ada.

Kemudian jika kita mengembalikan perkataan Luthfie Assyaukanie, maka kita pun akan mendapatkan jawabannya yang sebenarnya ada dalam statement Luthfie Assyaukanie tersebut dengan mudah.

Islam liberal adalah Islam yang nonortodoks. Pertanyaannya adalah, “apakah ada Islam ortodoks?”

Islam liberal adalah Islam yang compatible dengan zaman. Pertanyaannya adalah, “memangnya ada Islam yang tidak kompatibel dengan zaman sehingga harus direvisi?”

Islam liberal adalah Islam yang berorientasi masa depan. Pertanyaannya adalah, ”apakah ada Islam yang tidak berorientasi masa depan, sedangkan dalam Islam dengan jelas membahas konsepsi masa depan sampai pada masa akhirat?”

Pada akhirnya mitos #1 ini hanyalah sebuah akal-akalan saja atas klaim kebenaran yang mereka inginkan, karena pada dasarnya Islam sangatlah modern, kompatibel dengan zaman, dan selalu berorientasi masa depan. Berbeda dengan konsep ketuhanan yang diusung oleh Islam liberal yang tidak ada bedanya dengan kepercayaan monoteisme-dinamisme pada sebelum pra-sejarah.

2.       Mitos #2 Truth Claim oleh Prof. Qasim Mathar (Guru Besar UIN Makassar)

               “Islam liberal hadir sebagai respon terhadap Islam fundamentalis”

PADAHAL PENGISTILAHAN ITU ADALAH BUATAN MEREKA SENDIRI

Islam fundamental dalam pandangan kaum JIL adalah, sekelompok orang yang berusaha menerapkan nilai-nilai Islam secara total dalam kehidupannya, dari mulai masalah jenggot sampai masalah politik. Bagi JIL, eksistensi Islam fundamentalis seringkali disangkutpautkan dengan yang dinamakan teroris. Islam fundamentalis pun diartikan sebagai Islam ortodoks, karena dengan lantang dan jujur menolak untuk mengikuti perkembangan zaman. Hal ini bertolak dari anggapan mereka, bahwa Islam sudah tidak relevan dengan heterogenitas zaman. Sehingga dalam pandangan mereka: pengamalan Islam yang sesuai dengan salafush shaalih diistilahkan dengan ‘Islam Fundamentalis’, yang anti perubahan zaman. Sedangkan ide Islam liberal yang mereka usung, mereka tawarkan sebagai anti-tesis dari eksistensi ‘Islam fundamentalis’ yang mereka buat-buat. Padahal sejatinya, dalam menjalankan Islam haruslah secara kaffaah dan sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah.

Selain itu, pendefinisian fundamentalis terhadap mereka yang berusaha mengamalkan Al-Quran dan As-Sunnah secara penuh pun, tidaklah tepat. Karena definisi dari fundamentalis itu sendiri adalah sikap menolak perubahan yang ada dan sikap resistensi terhadap pemikiran-pemikiran di luar yang mereka pelajari. Konyolnya justru Islam liberal jauh lebih fundamentalis daripada ummat muslim yang dituduh fundamental. Hal ini terbukti dengan sikap resistansi mereka terhadap ide-ide di luar ide-ide liberalisme yang disampaikan guru-guru mereka dan buku-buku yang mereka pergunakan selama kuliah.

3.       Mitos #3 Truth Claim oleh Guntur Romli

Di twitter, para teroris itu menulis di biodatanya: Indonesia Tanpa JIL atau Indonesia Tanpa Liberalismee

PADAHAL Indonesia Tanpa JIL (ITJ) tidak pernah melakukan tindakan terorisme, justru ITJ selalu terbuka untuk berdiskusi dengan para kaum liberalis. Walau kaum liberalis selalu menolak untuk berdiskusi dengan INSIST, ITJ, ataupun INPaS.

Fakta lain tentang landasan ide-ide liberalisme itu juga bisa ditemukan di situs mereka (http://islamlib.com/id/halaman/tentang-jil) :

a. Membuka pintu ijtihad pada semua dimensi Islam.

Islam Liberal percaya bahwa ijtihad atau penalaran rasional atas teks-teks keislaman adalah prinsip utama yang memungkinkan Islam terus bisa bertahan dalam segala cuaca. Penutupan pintu ijtihad, baik secara terbatas atau secara keseluruhan, adalah ancaman atas Islam itu sendiri, sebab dengan demikian Islam akan mengalami pembusukan. Islam Liberal percaya bahwa ijtihad bisa diselenggarakan dalam semua segi, baik segi muamalat (interaksi sosial), ubudiyyat (ritual), dan ilahiyyat (teologi).

b. Mengutamakan semangat religio etik, bukan makna literal teks.

Ijtihad yang dikembangkan oleh Islam Liberal adalah upaya menafsirkan Islam berdasarkan semangat religio-etik Qur’an dan Sunnah Nabi, bukan menafsirkan Islam semata-mata berdasarkan makna literal sebuah teks. Penafsiran yang literal hanya akan melumpuhkan Islam. Dengan penafsiran yang berdasarkan semangat religio-etik, Islam akan hidup dan berkembang secara kreatif menjadi bagian dari peradaban kemanusiaan universal.

c. Mempercayai kebenaran yang relatif, terbuka dan plural.

Islam Liberal mendasarkan diri pada gagasan tentang kebenaran (dalam penafsiran keagamaan) sebagai sesuatu yang relatif, sebab sebuah penafsiran adalah kegiatan manusiawi yang terkungkung oleh konteks tertentu; terbuka, sebab setiap bentuk penafsiran mengandung kemungkinan salah, selain kemungkinan benar; plural, sebab penafsiran keagamaan, dalam satu dan lain cara, adalah cerminan dari kebutuhan seorang penafsir di suatu masa dan ruang yang terus berubah-ubah.

d. Memihak pada yang minoritas dan tertindas.

Islam Liberal berpijak pada penafsiran Islam yang memihak kepada kaum minoritas yang tertindas dan dipinggirkan. Setiap struktur sosial-politik yang mengawetkan praktek ketidakadilan atas yang minoritas adalah berlawanan dengan semangat Islam. Minoritas di sini dipahami dalam maknanya yang luas, mencakup minoritas agama, etnik, ras, jender, budaya, politik, dan ekonomi.

e. Meyakini kebebasan beragama.

Islam Liberal meyakini bahwa urusan beragama dan tidak beragama adalah hak perorangan yang harus dihargai dan dilindungi. Islam Liberal tidak membenarkan penganiayaan (persekusi) atas dasar suatu pendapat atau kepercayaan.

f. Memisahkan otoritas duniawi dan ukhrawi, otoritas keagamaan dan politik.

Islam Liberal yakin bahwa kekuasaan keagamaan dan politik harus dipisahkan. Islam Liberal menentang negara agama (teokrasi). Islam Liberal yakin bahwa bentuk negara yang sehat bagi kehidupan agama dan politik adalah negara yang memisahkan kedua wewenang tersebut. Agama adalah sumber inspirasi yang dapat mempengaruhi kebijakan publik, tetapi agama tidak punya hak suci untuk menentukan segala bentuk kebijakan publik. Agama berada di ruang privat, dan urusan publik harus diselenggarakan melalui proses konsensus.

 

Keenam poin tersebut dikritisi oleh kang Akmal Sjafril sebagai berikut:

a.       Membuka pintu ijtihad pada semua dimensi Islam

Islam memang memiliki ijtihad sebagai salah satu cara dalam pengambilan kesimpulan dan hukum. Tapi posisi ijtihad itu sendiri ada dibawah Al-Quran dan As-Sunnah. Ijtihad hanya berlaku ketika sebuah permasalahan tidak bisa ditemukan solusinya di dalam Al-Quran dan As-Sunnah secara langsung/ tekstual. Selain itu, tidak semua orang mempunyai kewenangan dan hak untuk mengeluarkan ijtihad mereka, hanya orang-orang yang mempunyai tingkat keilmuan dan tingkat keimanan tertentu saja yang berhak mengeluarkan ijtihad dan fatwa. Ijtihad pun tidak boleh bertentangan dengan Al-Quran dan As-Sunnah. Ruang lingkup ijtihad pun hanya pada tataran ibadah dan muamalah saja, TIDAK BOLEH masuk pada tataran AQIDAH, karena pikiran manusia terbatas dan tidak akan pernah bisa untuk memikirkan Dzat Allah. Sedangkan yang dilakukan oleh mereka (red: JIL) adalah:

·       Bagi mereka, ijtihad/ logika pemikiran adalah sumber utama hukum Islam, terbukti dengan sikap mereka yang lebih mengedepankan akal mereka (meskipun ngawur), dibandingkan dengan Al-Quran dan As-Sunnah

·         Ijtihad dalam konsep aqidah telah melahirkan kekacauan dalam berketuhanan, karena menganggap semua agama adalah sama.

·        Islam liberal dalam buku “Agama Seribu Nyawa” karangan Qomaruddin Hidayat, pada salah satu bab nya menjelaskan ‘untukku surgaku dan untukmu surgamu’. Hal ini berdasarkan pada premis nyeleneh yang mereka buat-buat sendiri, yaitu: “kalaulah Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang, apa susahnya sih bagi Allah untuk menciptakan surga dan neraka untuk masing-masing agama?”.

·         Islam liberal meragukan finalitas ketuhanan Allah dan kenabian Nabi Muhammad.

Itukah yang disebut Ijtihad Uluhiyyah oleh kaum JIL? Sangat tidak ilmiah sekali, hanya berdasarkan pada spekulasi-spekulasi saja

b.      Mengutamakan semangat religio etik, bukan makna teks

Hal ini berkaitan dengan penafsiran Al-Quran dan As-Sunnah yang didasarkan pada etika keagamaan, bukan pada makna literasi tekstual. Sehingga bagi mereka, Al-Quran dan As-Sunnah dipandang sebagai sebuah teks yang kebenarannya relatif tergantung pada masanya. Mereka memandang bahwa penafsiran Al-Quran yang ada dewasa kini, sudahlah tidak relevan lagi dengan kondisi kekinian. Sehingga, Islam itu tidak difahami berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah, melainkan oleh etika relijius, selama hal tersebut baik, maka digeneralisir hal tersebut baik pula menurut Islam.

c.       Mempercayai kebenaran yang relative, terbuka, dan plural

Mereka selalu mengatakan bahwa kebenaran itu bersifat relative, tergantung siapa yang mengatakan dan siapa yang memandangnya. Padahal telah jelas, bahwa Islam mempunyai standar kebenaran tertentu yang membedakan antara yang haq dan yang bathil. Jikalau standar kebenaran itu bersifat relative, terbuka, dan plural, tentunya hal ini pun tidaklah benar karena akan menyulitkan merekan juga untuk membedakan mana pendapat yang benar dan mana pendapat yang salah.

d.      Memihak pada ‘minoritas’ yang tertindas

Mereka mengatakan memihak pada ‘minoritas’, tapi nyatanya mereka tidak sedikitpun bersimpati kepada rakyat Palestina yang terjajah di negerinya sendiri atau Muslim Rohingya yang terusir dari negerinya sendiri. Minoritas yang mereka bela HANYALAH kaum Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT), kaum atheis, dan kaum missionaris.

e.      Meyakini kebebasan beragama

Kebebasan beragama yang diusung oleh JIL seolah terdengar baik, namun dalam praktiknya mereka berusaha untuk menyuburkan agama-agama sempalan seperti Ahmadiyyah yang mereka bela habis-habisan, pluralism agama, relativisme, dan transedensi beragama. Selain itu mereka juga berusaha menghapuskan otoritas ulama dan MUI dengan berbagai alasan yang dibuat-buat, seperti tuduhan bahwa MUI  telah menindas Ahmadiyyah, dan para pengusung agama baru (yang tentunya sesat dan menyesatkan juga).

f.        Memisahkan otoritas duniawi dan ukhrawi, keagamaan dan politik

Poin yang keenam ini sangat jelas sekali bahwa mereka sangatlah mendukung praktik sekularisme yang jelas sangat bertentangan dengan konsep syumuliyyatul Islam yang tidak perlu dipertanyakan lagi.

Tidak sedikit aktivis muslim yang silau dengan pendapat kaum liberalis karena gelar Proffessor dan Doktor yang mereka sandang sepulang dari Amerika. Mempelajari Islam dari Barat adalah sebuah kesalahan fatal, hal ini analog dengan seperti kita belajar Fisika kepada seorang dokter hewan. Sehingga wajar, paradigma Islam yang mereka yakini sangatlah berbeda dengan paradigma Islam yang sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah.

Produk Liberalismee Pemikiran lainnya adalah:

#Guntur Romli

“kenabian dan pewahyuan itu adalah hasil dari eksperimental kolektif setelah melalui proses kreatif yang sangat panjang”

Guntur Romli dalam salah satu media massa berani mengatakan keraguannya kepada finalitas kenabian Nabi Muhammad SAW. Dia beranggapan bahwa Muhammad terpilih sebagai Nabi itu adalah hasil dari proses scenario Siti Khadijjah dan kolega-koleganya untuk membuat sosok panutan yang ternyata adalah pegawainya sendiri yang kemudian menjadi suaminya. 

#Luthfi Assyaukanie

“Apa yang dilakukan oleh Lia Aminuddin itu sama seperti apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Kesalahan Lia sama dengan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW waktu munculnya Islam”

Statement tersebut dikatakan Luthfi Assyaukanie saat mendampingi Lia Eden di Mahkamah Konstitusi karena didakwa melanggar  Undang-Undang Penodaan Agama. Oleh Luthfi Assyaukanie, Lia Edan dianggap melakukan kesalahan yang sama dengan membuat agama baru dan menyiarkannya seperti apa yang telah dilakukan Nabi Muhammad SAW di tengah-tengah masyarakat Quraisy dengan menyiarkan Agama baru, yaitu Islam.

#Ulil Abshar Abdalla

“Sejauh menyangkut kontradiksi dalam Al-Quran, banyak sekali kita menjumpai kontradiksi dan pertentangan dalam Al-Quran”

Pernyataan Ulil ini adalah hal yang paling krusial dalam Islam. Bahkan statement Ulil Abshar Abdalla ini telah didebat habis-habisan oleh Forum Kyai Muda NU, dan warga NU lainnya. Namun seperti Guntur Romli, Ulil Abshar berkilah “saya warga NU” dengan tujuan untuk melindungi dirinya sendiri. Padahal Al-Quran itu tidaklah ada sedikitpun keraguan di dalamnya. Ini malah lebih parah dengan mencari kontradiksi yang sebenarnya tidaklah akan pernah bisa ditemui di dalam Al-Quran.

Jika keabsahan Al-Quran saja telah diragukan oleh mereka, apalagi dengan kandungannya. Tentunya akan diinterpretasi jauh dari seharusnya. Misalnya dalam menafsirkan kisah Nabi Luth dan Kaum Sodom. Kaum liberalis berpendapat bahwa kaum Sodom diadzab oleh Allah karena ulah mereka melecehkan dan menghinakan dua malaikat yang datang kepada Nabi Luth dengan perilaku penyimpangan seksual mereka. Padahal jelas seluruh ulama ahli tafsir sepakat dalam pendapat bahwa mereka diadzab oleh Allah karena penyimpangan seksual mereka.

***

Setelah pemaparan materi berakhir, kegiatan bedah buku pun dilanjutkan dengan diskusi antara peserta dan pemateri yang ditengahi oleh ana selaku moderator. Ada beberapa hal yang patut menjadi catatan dari diskusi yang telah terjadi selama 60 menit tersebut, diantaranya adalah:

1.        Tingginya animo para peserta dalam berdiskusi tentang masalah Islam Liberal ini setelah pemaparan materi berlangsung. Padahal diawal kegiatan, saat ana bertanya siapa saja yang telah membaca bukunya Kang Akmal Sjafril, hanya sekitar 10% dari total peserta yang mengangkat tangan. Hal ini juga menjadi parameter, bahwa virus liberalisme yang selama ini beredar itu adalah seperti fenomena gunung es. Hanya segelintir orang yang tanggap dan peka terhadapnya, tetapi ketika telah dibuka tabirnya, maka semua orang akan merasakan bahwa virus-virus ini ada di sekitar kita, meracuni pikiran kita secara perlahan, dan diakhirnya kita pun akan mengiyakan pemikiran mereka tanpa kita sadari

2.       Islam liberal hadir dengan mencatut istilah ‘muslim cendikia’ di Indonesia. Hal ini dikarenakan ummat muslim (terutama di Indonesia), tidak mampu menggunakan intelektualitasnya secara total dan maksimal. Sehingga kita tidak peka terhadap permasalahan yang ternyata ada di sekitar kita. Hal ini berbanding terbalik dengan ketika Indonesia sedang ada dalam masa penjajahan, dimana setiap murid selama belajar di AMS diwajibkan minimal untuk membaca 32 buku dalam 4 bahasa sebagai bekal keilmuan mereka. Sehingga tidak aneh jika tokoh-tokoh terdahulu mempunyai tingkat keilmuan yang mumpuni, bahkan mampu menjawab permasalahan-permasalahan liberalisme pemikiran yang kini kita pelajari. Sebutlah M. Natsir, Buya Hamka, dan H.M. Rasjidi yang telah menuliskan berbagai pemikirannya sebagai buah ilmu dari buku-buku yang telah mereka baca. Konklusi: SEMARAKKAN KEMABALI BUDAYA MEMBACA, MENULIS, DAN BERFIKIR!.

3.       Sebagian besar dari pertanyaan yang masuk adalah bertanya tentang bagaimana penyikapan kita terhadap para pengusung ide liberalisme pemikiran. Kang Akmal Sjafril menjelaskan, bahwa kita harus menyikapinya dengan menyuarakan Al-Haq juga. Mereka berdalih bebas menyiarkan ide-ide liberalisme pemikiran dengan dalih Indonesia menjamin kebebasan berkumpul, berbicara, dan berpendapat; maka kita pun HARUS bisa mengoptimalkan kebebasan berkumpul, berbicara, dan berpendapat kita secara optimal dan maksimal untuk menyuarakan Al-Haq. Menyuarakan Al-Haq haruslah dengan kesabaran dan ilmu yang mumpuni juga. Karena mereka pun selalu menuntut standar ilmiah, maka kita pun harus mempersiapkan diri kita untuk bertarung secara pemikiran yang ilmiah dalam peperangan pemikiran ini (ghazwul fikri). Solusi utama untuk memenangkan perang pemikiran adalah KITA HARUS LEBIH CERDAS DARI MEREKA, jadikan setiap argumentasi yang kita berikan seperti butir-butir peluru dan amunisi yang akan menghantam pemikiran-pemikiran mereka. Selain itu, setiap argumentasi yang kita berikan, haruslah disampaikan dengan cara yang baik, tanpa ada emosi. Karena ketika kita emosi, kita akan kehilangan sisi intelektualitas kita dalam menghadapi pemikiran-pemikiran mereka, alih-alih menyampaikan ilmu kepada mereka, yang ada malah kita akan menghilangkan sisi intelektualitas kita ketika penyampaiannya penuh emosi.

4.      Islam liberal itu hadir seperti kue yang enak tapi beracun. Pemikirannya terlihat indah dan logis untuk dicerna, tapi jika kita mampu berfikir lebih mendalam dan lebih Islami, niscaya kita akan menemukan bahwa argumentasi mereka tidaklah ilmiah sama sekali. Dalam menyikapi mereka, kita haruslah bersatu dalam satu barisan yang sama untuk menolak perkembangan liberalisme di Indonesia dengan aksi yang massif, baik melalui media social ataupun melalui turun aksi ke jalan seperti yang pernah kita lakukan untuk menolak kehadiran Lady Gaga.

5.       Mungkin kita bertanya mengapa basis pergerakan liberalisme itu mayoritas ada di UIN/ IAIN yang notabenenya adalah perguruan tinggi negeri. Hal ini dikarenakan mereka (para mahasiswa) dicekoki dengan pemikiran-pemikiran liberalisme yang terintegrasi dalam perkuliahan mereka, buku-buku teksbook, dan pergaulan keilmiahan mereka sendiri. Sehingga bukan hal yang aneh ketika kita menemukan sosok-sosok liberalis yang berasal dari kampus-kampus Islam. Hal ini pun sesuai dengan sejarah perkembangan Islam liberal di Indonesia itu sendiri yang digagas oleh Harun Nasution sekembalinya dia dari McGill yang dikemudian hari menjadi rektor salah satu UIN yang memungkinkan semakin massifnya perkembangan ide-ide Islam liberal di Indonesia. Tokoh intelektual Islam di Indonesia tidak hanya diam dalam menghadapi gagasan-gagasan liberal Harun Nasution yang tertuang dalam berbagai textbook wajib di UIN/ IAIN. H.M. Rasjidi misalnya selaku mantan Menteri Agama RI yang paling aktif mengkritisi pemikiran-pemikiran Harun Nasution dengan melayangkan berbagai surat aduan dan masukan kepada Department Agama dalam menghadapi ide-ide liberalisme yang diusung Harun Nasution, seperti buku “Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya” yang terbit tahun 1974. Namun aduan dan masukan yang dilayangkan H.M. Rasjidi tidak pernah mendapatkan jawaban dari Department Agama untuk menarik buku-buku teksbook karya Harun Nasution tersebut. Hal ini pula yang memacu H.M. Rasjidi untuk menuliskan gagasan-gagasan dan kritiknya atas ide liberalisme yang diusung Harun Nasution, seperti yang tertuang dalam bukunya yang berjudul “Empat Kuliah Agama Islam di Perguruan Tinggi Negeri”. Walaupun H.M. Rasjidi telah menuliskan buku-buku koreksi dan kritik atas pemikiran Harun Nasution, H.M. Rasjidi belum berhasil untuk menandingi gagasan-gagasan liberal Harun Nasution yang telah menghegemoni di UIN/IAIN. Dan inilah PR besar kita untuk mengembalikan Islam pada khittahnya.

6.      Banyak orang yang apatis dan merasa yang penting diri kita sendiri tidak mengikuti ide-ide liberalisme pemikiran tersebut. Sepintas memang terlihat seolah kata-kata tersebut benar, tapi apalah fungsi kita sebagai da’I ketika kita membiarkan orang lain terjerumus pemikiran-pemikiran mereka. Da’wah itu bukanlah hanya konsumsi diri kita sendiri, tapi juga untuk keluarga, dan masyarakat pada umumnya. Apa yang terjadi saat ini, mungkin berkaitan dengan masa-masa awal adanya JIL di Indonesia, saat Kang Akmal Sjafril masih menjadi mahasiswa ITB dan menyampaikan bahaya Islam liberal kepada teman-temannya yang kurang ditanggapi secara serius. Tapi setelah bertahun-tahun dibiarkan, ternyata perkembangan liberalisme pemikiran, bukan hanya di kampus-kampus saja, bahkan sudah sampai ke kampung-kampung dibawa oleh para aktivis liberalis. Dan jika kita hanya berdiam diri saja tanpa ada aksi nyata, baik berupa ikut andil dalam perang pemikiran ini dan senantiasa berdakwah, maka apa arti fatwa pengharaman liberalisme pemikiran yang telah disahkan oleh MUI pada tahun 2005?

the end

***

IMG_8515
 

Bedah buku dan diskusi bolehlah berakhir sampai pada kesempatan kali ini saja, tapi persiapan kita dalam menghadapi perang pemikiran yang begitu nyata ini haruslah selalu diupgrade di setiap waktu. Semoga segala kontribusi positif kita dalam perang pemikiran ini mendapatkan pahala yang setimpal di hadapan Allah Subhaanahu wa Ta’alaa. Aamiin

Dan terima kasih atas diskusi ringannya pada suatu sore kepada kang Akmal Sjafril yang semakin meyakinkan ana untuk mengambil Pendidikan Sains Islam. Semoga Allah memberikan kekuatan kepada ana untuk mwujudkan mimpi ini. Let’s revive Islamic Sains one again!

download pdf+ppt+video (19MB)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 13, 2013 by in Pemikiran.
%d bloggers like this: